Pentingnya Mengemas Tulisan untuk Dikonsumsi Publik

pentingnya mengemas tulisan

“Informasi itu gratis, kalau udah dikemas penulis jadinya fantastis.” – Dwi Andika Pratama dalam Modul 1: Content Writing Fundamental

 

Teringat perkataan Kak Dwi Andika Pratama a.k.a Kadika itu waktu belajar nulis di Certified Impactful Writer Batch 5.

Banyak informasi bertebaran di dunia digital yang bisa diperoleh secara gratis. Tapi nggak semua informasi itu dikemas dengan menarik dan mudah dimengerti, setuju nggak?

Mungkin kamu juga pernah membaca tulisan yang judulnya apa, tapi isi bahasannya apa, terus ketika dibaca juga kurang enak dan sulit dipahami arah pembicaraannya kemana.

Jadinya pembaca nggak ngerti, “Aduuuh, ini tulisan maksudnya apaan sih?”. Bisa jadi itu yang terlintas di benak pembaca.

 

Jadi Jangan Menulis Apa Adanya!

Mungkin kamu kurang setuju dengan pernyataan di atas, karena menulis apa adanya menjadi salah satu jalan ninjanya penulis untuk mengatasi writer’s block.

Ya sesungguhnya itu betul kok! Hal itu sesuai dengan yang disampaikan Almarhum Bapak Hernowo Hasim dalam beberapa bukunya, diantaranya Free Writing dan “Flow” di Era Socmed.

Ketika menulis secara bebas atau free writing, pikiran akan terbuka, ide-ide mulai mengalir deras, sehingga terangkai sebuah tulisan.

Namun tulisan yang dihasilkan itu terkadang hanya sebagian yang layak untuk dikonsumsi orang lain dan sisanya kurang layak atau bahkan ada yang nggak layak sama sekali.

 

Makanya Kemas (Ulang) Tulisanmu!

Hasil tulisan free writing atau curahan segala isi pikiranmu sebaiknya kamu kemas ulang sebelum menjadi konsumsi publik. Tapi gimana sih mengemas ulang tulisan itu?

Anggaplah ide-ide berfaedah yang tertuang dari hasil menulismu itu sebagai bahan baku mentah untuk dimasak. Pilih satu topik dari ide-ide tersebut.

Lalu kamu bisa mengikuti resep menulis yang diperoleh dari buku Quantum Learning ini.

 

1. Persiapan Menulis

Setelah menentukan satu topik menulis, bangun pondasi tulisan yang kamu ingin sampaikan kepada pembaca seperti apa.

Pondasi atau outline tulisan bisa kamu bentuk berdasarkan pengetahuan, gagasan, atau pengalamanmu.

 

2. Membuat Draft Kasar

Selanjutnya kembangkan gagasan-gagasan yang telah kamu tentukan di dalam outline atau kerangka tulisan yang telah kamu buat.

Fokus aja dulu dengan isi tulisannya mau bagaimana. Kamu nggak perlu terlalu fokus dengan tanda baca, tata bahasa, atau ejaan.

 

3. Berbagi Tulisan dengan Orang Lain

Setelah bikin draft kasar, biasanya ada perasaan ragu terhadap tulisan sendiri. Tulisannya udah enak dibaca belom ya? Apa lagi yang kurang ya?

Kamu bisa meminta pendapat orang lain supaya penilaiannya lebih objektif. Minta tolong orang terdekat untuk membaca tulisanmu lalu memberimu kritik dan saran.

 

4. Memperbaiki Tulisan

Langkah berikutnya setelah kamu menerima kritik dan saran dari orang lain, kamu bisa menyaring mana yang bisa dijadikan bahan perbaikan dan mana yang tidak.

Itu adalah hakmu, karena kamu adalah tuan dari tulisanmu sendiri.

 

5. Menyunting Tulisan

Pada tahap menyunting inilah saatnya kamu mulai memikirkan ejaan, tata bahasa, dan tanda baca. Kamu juga perlu memastikan apakah tulisanmu udah enak dibaca atau nggak.

Oh iya, sedikit tambahan berdasarkan yang aku pelajari dari Certified Impactful Writer, kamu juga perlu memilih gaya bahasa yang sesuai dengan target pembacamu.

Selain itu juga kamu perlu memperhatikan keterbacaan atau layout tulisanmu. Hati-hati paragraf tulisan yang terlalu rapat bisa jadi pemicu pembaca jadi males untuk baca lho!

 

6. Evaluasi

Setelah selesai menulis, pastikan kembali bahwa tulisanmu sudah sesuai dengan apa yang kamu harapkan dan rencanakan.

Kamu bisa mengeceknya dengan memperhatikan kembali langkah menulis dari poin pertama.

 

Itulah resep menulis yang efektif untuk semua bentuk tulisan ala buku Quantum Learning. Sebetulnya di dalam buku itu ada 7 langkah, tapi aku tulis kembali menjadi 6 langkah.

Selain itu aku juga merangkai kembali berdasarkan apa yang pernah aku pelajari dari Certified Impactful Writer.

 

Alhasil Tulisan yang Dikemas akan Lebih Nikmat

Informasi-informasi yang telah dikemas penulis menjadi lebih nikmat. Siap disantap oleh para pembaca.

Tulisanmu lebih menarik, enak dibaca, dan mudah dipahami oleh pembaca.

 

Mudah-mudahan tulisanku ini bermanfaat. Jika kamu punya kritik, saran, atau masukan, silahkan kamu tulis di kolom komentar ya!

Ayo sama-sama belajar!

 

Kesimpulan

Banyak informasi yang bisa diperoleh dengan gratis, apalagi sekarang didukung dengan adanya internet.

Tetapi nggak semua informasi itu dikemas dalam bentuk tulisan yang mudah dipahami dan menarik.

Makanya, penulis perlu mengemas informasi-informasi itu sehingga lebih nikmat untuk dikonsumsi oleh para pembaca.

 

Sumber buku: Modul Belajar Certified Impactful Writer, Free Writing, “Flow” di Era Socmed, dan Quantum Learning.
Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/5fNmWej4tAA

2 thoughts on “Pentingnya Mengemas Tulisan untuk Dikonsumsi Publik

  1. nandandva

    makasih mba ria udh hadir buat nulisin hal seperti ini, aku juga kadang suka nulis judulnya apa isinya apa, pas udah kelar nulisnya dan berasa gak related sama judul aku lebih prefer ganti judul daripada mengemas ulang tulisannya hehehe.
    kedepannya bakal aku terapin ilmu dari mba ria ini supaya tulisan aku jd fantastis 😉

    1. Driyarta Lumintu

      iya sama-sama kak. sama kok aku juga begitu, pengalaman sendiri juga nih 😅
      setelah selesai nulis kadang judul pun direvisi kalo kurang pas.
      mudah-mudahan apa yang ditulis di atas bermanfaat ya kak.
      btw, salam kenal kak!

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: