Kenapa Anak Muda Perlu Bikin Konten?

anak muda bikin konten

Kamu sadar nggak sih, selama ini dunia sebenarnya ada di dalam genggamanmu?

Lewat layar ponselmu, dalam waktu singkat, kamu bisa langsung tau apa yang sedang terjadi di negara lain.

Dengan mudah kamu bisa bertukar kabar dengan orang-orang di berbagai negara.

Itu semua menandakan bahwa lalu lintas persebaran informasi saat ini sangat cepat menyebar kemanapun di dunia digital.

 

Manfaatkan dengan Baik!

Yup, manfaatkanlah hal itu dengan baik dan bijak! Pergunakan dunia digital untuk mendapatkan banyak manfaat positif darinya.

Daripada cuma dipake ber-medsos-an ria, curhat online, atau ngikutin hal-hal yang viral doang. Iya nggak?

Coba deh, kamu sebagai anak muda ikut meramaikan dunia digital ini dengan konten-konten yang lebih banyak positifnya dan memberikan manfaat.

Pernah nggak ketika kamu searching sesuatu, misalnya bahan untuk tugas lalu kamu ngerasa, “Nyari informasi berkualitas dari internet yang Bahasa Indonesia kok susah banget ya!”

Nah, bisa jadi itu peluang buatmu untuk bikin konten yang berkualitas. Ciptakan konten yang sesuai dengan kebutuhanmu sendiri.

 

Kenapa Perlu Bikin Konten?

persentase pengguna media sosial di indonesia

Kamu sendiri udah sering denger pastinya, bahwa pengguna media sosial saat ini didominasi oleh usia produktif mulai dari 18 tahun hingga 34 tahun.

Hal tersebut bisa kamu liat lewat data yang bersumber dari DataReportal pada gambar di atas.

Itu bisa jadi alasan kenapa anak muda perlu bikin konten. Dunia digital ini dikuasai oleh anak-anak muda.

“Ah, tapi nggak ngerti cara bikin konten.”

Kamu sendiri udah paham belum konten itu apa? Definisi konten sendiri sebetulnya bisa berbeda-beda dari setiap orang dan bergantung pada konteksnya apa.

 

Konten adalah…

Salah satu definisi konten menurut Kevin Cain, Content is a compilation of information, ideas, and messages that are translated into some kind of written, visual, or audible format for others to consume.

Selama kamu hidup, banyak kan informasi yang sudah kamu peroleh? Berapa banyak ide-ide muncul di dalam pikiranmu? Apa aja yang ingin kamu sampaikan dari dalam dirimu?

Ayo, coba dijawab! Kamu punya semua jawabannya dan itu semua bisa menjadi bahan kamu membuat konten.

Kamu bisa menulis, menggambar, atau menyampaikannya lewat sebuah rekaman suara. Lalu itu semua bisa kamu sampaikan lewat media sosial, blog, atau kamu bisa bikin podcast.

Siapapun bisa bikin konten kok!

 

Be Creative!

Jangan lupakan hal yang satu ini. Kalo kamu ingin kontenmu dilirik, kamu harus berpikir sekreatif mungkin.

“Duh, aku nggak kreatif.”

Menurutku semua orang itu sebetulnya punya sisi kreatif, kenapa? Kreatif bukan cuma istilah untuk seorang seniman, penyanyi, musisi, atau desainer.

Kreativitas sebenarnya adalah menerjemahkan suara kita atau “diri” kita ke dalam bentuk nyata, baik itu dalam wujud karya seni, musik, penyelesaian masalah dalam karier, menghadapi anak, kepandaian memilih dekorasi rumah, gaya berpakaian, hobi, tarian, maupun kegiatan ekspresif lainnya. Ringkasnya, kreativitas adalah ekspresi keunikan diri kita. – Joyce Wycoff

Gimana menurutmu setelah baca definisi kreatif menurut Joyce Wycoff itu? Ternyata kreatif itu artinya pun luas ya?

 

Bagaimana Memunculkan Kreativitas?

Kamu udah pernah baca buku yang berjudul “Steal Like an Artist” karya Austin Kleon belum? Dari buku itu kamu bisa belajar gimana caranya menjadi kreatif.

Setelah membaca buku itu, aku pribadi sadar bahwa kreativitas itu nggak lahir atau muncul gitu aja. Ada proses untuk memunculkannya dan itu tentu perlu diasah.

Bibit awal supaya kamu bisa memunculkan kreativitas bisa diawali dengan mencuri.

“Hah? Mencuri ide orang lain gitu maksudnya?”

Mencurinya tapi nggak asal nyuri, nggak sekedar jiplak habis semua karya milik orang lain.

Curi dari mana saja hal yang menginspirasi atau memantik imajinasimu. Nikmati film lama, film baru, musik, buku, lukisan, foto, puisi, mimpi, percakapan sembarang, arsitektur, jembatan, penanda jalan, pohon, awan, perairan, cahaya, dan bayangan. Curi yang langsung menarik perhatianmu saja. Jika kamu lakukan ini, karya (dan curianmu) akan jadi autentik. – Jim Jarmusch

Itu cara mencuri yang nantinya akan membantu dirimu menciptakan sebuah konten yang khas kamu banget.

 

Belajar Mengolah Kata Juga Penting!

Bisa jadi kamu sudah merasa mahir mengolah kata-kata. Atau saat ini kamu masih bertanya-tanya untuk apa belajar mengolah kata.

“Iya buat apa mau ngonten harus bisa ngolah kata? Konten kan bisa disajikan dalam bentuk gambar dan video. Nggak perlu nulis-nulis.”

Konten adalah sarana untuk mengkomunikasikan sesuatu. Nah, untuk berkomunikasi kita nggak bisa lepas dari bahasa.

Dan bahasa juga nggak lepas juga dari kata-kata. Iya nggak?

Words are, in my not so humble opinion, our most inexhaustible source of magic, capable of both inflicting injury and remedying it. – Albus Dumbledore

Kamu ingin kan konten yang kamu buat memberikan manfaat yang baik untuk audiencenya? Kata-kata mampu memberikan kekuatan di dalam konten yang kamu buat.

Jadi disarankan juga untuk kamu untuk belajar mengolah kata-kata. Supaya pesan-pesan yang kamu sampaikan lewat kontenmu lebih jelas dan dapat diterima.

Kalo kamu punya pendapat, kritik, atau saran yang mau disampaikan, tulis di kolom komentar ya!

 

Kesimpulan

Di dunia digital, lalu lintas persebaran dan pertukaran informasi sangat cepat. Mayoritas penduduk dunia digital, terutama di media sosial didominasi oleh anak muda.

Sehingga, menjadi peluang yang bagus untuk anak muda menciptakan konten-konten yang berkualitas dan positif menggunakan kreativitasnya.

 

Referensi buku: Quantum Reading dan Steal Like an Artist
Referensi web:
https://datareportal.com/reports/digital-2021-indonesia
https://www.toprankblog.com/2013/03/what-is-content/
Referensi gambar: https://unsplash.com/photos/EQSPI11rf68

5 thoughts on “Kenapa Anak Muda Perlu Bikin Konten?

  1. Aqmarina - The Spice To My Travel

    Suka banget sama artikel mbak Ria ini..
    Aku setuju dengan anak muda yang membuat konten yang bermanfaat dan membantu..
    Jangan sampai generasi muda hanya menjadi konsumen konten, kalau bisa membuat konten, kenapa tidak?! ?

    1. Driyarta Lumintu

      waaah, terimakasih banyak kak. iya kak, generasi muda harus lebih banyak jadi produsen konten terutama yang positif, jangan jadi konsumen melulu?

  2. Mayuf

    Sangat bermanfaat informasinya dan sangat betul banget kak

  3. annisa permata

    Dunia digital ada kelebihan dan ada pula kekurangannya, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. via dunia digital kadang orang dengan mudah mem “bully” orang lain, namun dari dunia digital juga ilmu mudah diakses, komunikasi lebih lancar dan ide-ide kreatif bisa muncul dari sini.

    setuju dengan kakak, sebagai generasi muda sudah seharusnya bukan hanya sekedar menjadi penikmat apalagi korban dunia digital, tetapi bisa menjadi content creator yang tidak hanya lucu-lucuan namunbisa memberikan suatu konten yang edukatif dan informatif.

    Thanks kak untuk sharing tulisan ini. boleh kak mampir ke blog ku..hehee, perlu ada yang kasih input untuk content blog ku biar lebih bermanfaat. makasiih kak

    1. Driyarta Lumintu

      iya bener banget kak, anak muda perlu memperhatikan etika kehidupan sosial di dunia digital juga untuk menghindari dampak negatif. salah satunya seperti bullying itu. pada dasarnya kehidupan dunia digital dan nyata itu sama, berbeda media aja.

      terimakasih ya kak sudah mampir, nanti gantian aku yang mampir ke blog kakak.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: